Fast Response Contact : 083845238520

NCL Madiun, Agustus 2018Bekerja di kapal pesiar dengan fasilitas langsung sebagai karyawan tetap, berpenghasilan tinggi sambil menikmati wisata gratis keliling dunia, menjadi tren berkarir yang banyak menyedot perhatian dari para lulusan SLTA sederajat, pasalnya sejak keluarnya Perpres Nomor 8 Tahun 2012 tentang KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) yang dalam bahasa internasionalnya disebut juga sebagai National Qualification Framework, para alumni berseragam putih abu-abu ini semakin banyak yang beralih untuk memilih tingkat pendidikan vokasi yang lebih cepat, lebih pasti dan lebih banyak memberikan peluang kerja pasca pendidikan, ketimbang masuk di Perguruan Tinggi Negeri/Swasta berjenjang D3/S1. Hal ini juga diperkuat dengan adanya pola & kebutuhan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana para pekerja bebas masuk ke suatu negara untuk mendapatkan pekerjaan, itu artinya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan setelah masa pendidikan juga memiliki tingkat persaingan yang lebih kompetitif.


Seperti halnya seorang alumni NCL Madiun bernama Hudy Eko Purnadi, lulusan SMKN 1 Wonoasri Kabupaten Madiun yang mengambil bidang jurusan elektro ini mengaku merasa beruntung karena telah memilih jalur vokasi di bidang perhotelan & kapal pesiar bersama NCL Madiun, karena setelah menempuh pendidikan selama 1 tahun di NCL Madiun, pria yang akrab disapa mas Hudy ini langsung bergerak cepat menaiki tangga karirnya, mulai dari bekerja di lingkungan hotel-hotel berbintang sampai kini dia menjadi salah satu crew (sebutan untuk karyawan yang bekerja di kapal pesiar, red) di Symphony Of The Seas milik perusahaan kapal pesiar Royal Carribean Cruise Line International.


“Ya, sebenarnya dulu cita-cita ingin menjadi seorang guru, tapi setelah saya menerima informasi tentang perhotelan & kapal pesiar ini, saya kok jadi berpikir, sekolah yang bertahun-tahun sama yang cuma setahun, ujung-ujungnya sama kok, buat cari kerja, cari duit, hehehe” ucap mas Hudy ketika di wawancara tim redaksi saat ditemui dalam masa “vacation” (istilah liburan untuk karyawan kapal pesiar, red) di kampus NCL Madiun.


Melanjutkan obrolan santai, laki-laki yang bekerja di kapal pesiar terbesar di dunia itu mengaku, bahwa keinginan untuk bekerja di kapal pesiar ini tidak murni dari dalam hatinya, “ya, kan kalau bekerja di kapal pesiar itu kan harus bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris, karna kita bekerjanya bukan di Indonesia, tapi di Amerika atau Eropa, itu jadi penghalang terbesar saya saat itu, hampir saja saya putus asa, karna saya akui, saya ini termasuk orang yang sulit belajar bahasa inggris”.


Saat ditanya lebih lanjut, soal motivasi yang membuat mas Hudy akhirnya berani berjuang mempelajari bahasa inggris, mas Hudy menjawab, “saya sebenarnya terinspirasi dari paman saya, dia sudah duluan bekerja di kapal pesiar selama bertahun-tahun, dia sering memberikan motivasi kepada saya untuk belajar bahasa inggris, dialah orang yang menasehati saya, bukan soal saya bisa atau tidak bisa bahasa inggris, tapi saya mau apa tidak mau belajar bahasa inggris, kuatnya kemauan itulah yang mendorong saya, menyemangati saya untuk belajar bahasa inggris”.


Ketika ditanya soal alasan memilih NCL Madiun, jejaka yang memasuki usia 23 tahun ini menjawab, “saya suka yang pasti-pasti aja, saya memilih NCL Madiun ini karena merasa NCL Madiun ini sudah lama ada, dan alumninya juga sudah banyak sekali, saya merasa tentu sekolah ini jauh lebih berpengalaman ketimbang sekolah-sekolah lain yang baru muncul dan belum jelas faktanya, dan oh ya, yang terpenting biayanya yang termurah, hehehe” ucap mas Hudy sembari tertawa.


Dimintai pendapat soal cerita selama bekerja di bidang Hospitality Industry, mas Hudy juga memberikan komentarnya, “ya namanya kita bekerja, pasti ada suka duka lah, tapi semua itu tergantung kita bersikap kok, di semua tempat kerja itu pasti ada cerita seperti itu, namanya juga karyawan kan? Kalau kita terbiasa di manja, kurang mengerti arti perjuangan, maunya cuma enaknya aja, ya susah, kita tidak akan bisa menuju ke suatu perubahan atau kenaikan level, apalagi anak-anak jaman sekarang kan lebih cenderung menyukai segala sesuatu yang instan, kurang mau menjalani proses, mana bisa begitu, mau berhasil ya harus mau berjuang, harus sabar, konsisten dan komitmen, kalau tidak ya sudah di rumah saja, enak cuma makan tidur, masuk akal?”


Sesi wawancara pun terus berlanjut, memasuki obrolan soal gaji dan rencana ke depan, mas Hudy seperti tidak ingin memberikan keterangan soal itu, namun setelah di desak, mas Hudy yang bekerja di posisi Assistant Waiter ini menjawab, “Alhamdulilah, lebih dari USD. 2200 (setara 30 jutaan rupiah)” – Selesai

 

Pin It on Pinterest

Chat WhatsApp
Lewat ke baris perkakas